Minggu, 25 Oktober 2015
Nak, berkacalah di cerminmu sendiri
Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. Adalah nasehat yang selalu didengungkan oleh seorang ibu kepada anak tunggalnya yang berumur 11 tahun. Ibu ini tidak mau memberi terlalu banyak nasehat, atau bahkan perintah yang kadang tidak berkasiat. Semakin banyak atribut wejangan, anak pun bisa bingung yang mana mejadi prioritas dan juga sering lupa. Memang sejak suaminya meninggal beberapa tahun yang lalu, ia satu-satunya yang bertanggung jawab akan masa depan anaknya. Suasana dan kondisi keluarga pun semakin pilu lantaran ekonomi semakin parah.
Maka ia lebih suka memberi nasehat itu tadi, “Nak, berkacalah dicerminmu sendiri.” Ibu itu juga tidak mau menerangkan apa arti ungkapan itu. Ia membiarkan anaknya sendiri yang menemukan maknanya dan ia akan mengingatnya selalu. Benar bahwa Roy, nama anaknya, yang masih berusia 11 tahun itu sama sekali tidak mengerti artinya. Pada suatu hari, saat mereka makan malam anaknya berkeluh, “Mom, semua teman saya selalu diantar jemput, mereka suka makan di kantin. Pokoknya teman-teman saya selalu senang seperti tidak ada yang kurang” Ibunya yang mendengar “jeritan” anaknya merasa sangat pilu, air matanya mulai mengalir namun ia menahan diri. Ia tidak mau menangis didepan anaknya. Ia harus kuat dan teguh. Ia pun mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. ”Untunglah anaknya tidak bawel dan memble. Menjelang tidur, anaknya merenungkan apa arti ungkapan ibunya itu.
Setahun kemudian, anaknya kembali berkeluh kesah, “Mom, hamper semua teman-temanku punya handphone, atau blackberry. Saat sekolah usai mereka selalu menelepon ayah mereka untuk dijemput.” Kali ini ibunya tidak kuasa menahan air matanya namun ia cepat menyekanya, sekali lagi ia tidak ingin anaknya melihatnya sedih. Sambil memeluk anaknya ia mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. Setelah itu ibu itu bergegas ke kamar dan menangis di sana sendirian.
Akhirnya memang Roy mengerti apa arti ungkapan dari ibunya itu. “Lihatlah dirimu, keluargamu dan hidupmu sendiri. Terimalah apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi menangis. Ubahlah “nasibmu” dengan tekad dan perjuanganmu sehingga kamu juga akan bisa seperti mereka yang mempunyai dan memiliki”. Itulah “butir-butir mutiara” yang terpatri di hati Roy. Semenjak itu, ia tidak mau lagi mengeluh. Kini ia selalu mengatakan, “Mom, nilai-nilaiku sangat bagus dan guru-guru selalu senang dengan saya karena pekerjaan rumah saya selalu bagus.” Kali ini pun ibunya tetap mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri”. Roy mengartikannya, “Jangan cepat berpuas diri” Akhirnya Roy adalah anak yang sangat berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.
Saudara-saudari terkasih dan teman-teman sekalian. Berkacalah di cerminmu sendiri, Ini adalah nasehat bijak dalam kehidupan bagi siapa saja. Melihat diri lebih dahulu, menerima diri apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi berputus asa. Tanamkanlah sikap optimis bahwa kita bisa mengobah nasib kita sendiri dengan tekad dan perjuangan. Ibu dan anaknya Roy adalah manusia biasa miskin, tetapi mereka telah mengecap suatu Nilai Hidup yang luhur bahwa kebahagiaan dan kesuksesan adalah hak setiap insan.
Maka ia lebih suka memberi nasehat itu tadi, “Nak, berkacalah dicerminmu sendiri.” Ibu itu juga tidak mau menerangkan apa arti ungkapan itu. Ia membiarkan anaknya sendiri yang menemukan maknanya dan ia akan mengingatnya selalu. Benar bahwa Roy, nama anaknya, yang masih berusia 11 tahun itu sama sekali tidak mengerti artinya. Pada suatu hari, saat mereka makan malam anaknya berkeluh, “Mom, semua teman saya selalu diantar jemput, mereka suka makan di kantin. Pokoknya teman-teman saya selalu senang seperti tidak ada yang kurang” Ibunya yang mendengar “jeritan” anaknya merasa sangat pilu, air matanya mulai mengalir namun ia menahan diri. Ia tidak mau menangis didepan anaknya. Ia harus kuat dan teguh. Ia pun mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. ”Untunglah anaknya tidak bawel dan memble. Menjelang tidur, anaknya merenungkan apa arti ungkapan ibunya itu.
Setahun kemudian, anaknya kembali berkeluh kesah, “Mom, hamper semua teman-temanku punya handphone, atau blackberry. Saat sekolah usai mereka selalu menelepon ayah mereka untuk dijemput.” Kali ini ibunya tidak kuasa menahan air matanya namun ia cepat menyekanya, sekali lagi ia tidak ingin anaknya melihatnya sedih. Sambil memeluk anaknya ia mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri. Setelah itu ibu itu bergegas ke kamar dan menangis di sana sendirian.
Akhirnya memang Roy mengerti apa arti ungkapan dari ibunya itu. “Lihatlah dirimu, keluargamu dan hidupmu sendiri. Terimalah apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi menangis. Ubahlah “nasibmu” dengan tekad dan perjuanganmu sehingga kamu juga akan bisa seperti mereka yang mempunyai dan memiliki”. Itulah “butir-butir mutiara” yang terpatri di hati Roy. Semenjak itu, ia tidak mau lagi mengeluh. Kini ia selalu mengatakan, “Mom, nilai-nilaiku sangat bagus dan guru-guru selalu senang dengan saya karena pekerjaan rumah saya selalu bagus.” Kali ini pun ibunya tetap mengatakan, “Nak, berkacalah di cerminmu sendiri”. Roy mengartikannya, “Jangan cepat berpuas diri” Akhirnya Roy adalah anak yang sangat berprestasi dan selalu mendapat beasiswa.
Saudara-saudari terkasih dan teman-teman sekalian. Berkacalah di cerminmu sendiri, Ini adalah nasehat bijak dalam kehidupan bagi siapa saja. Melihat diri lebih dahulu, menerima diri apa adanya dan jangan terlalu banyak mengeluh apalagi berputus asa. Tanamkanlah sikap optimis bahwa kita bisa mengobah nasib kita sendiri dengan tekad dan perjuangan. Ibu dan anaknya Roy adalah manusia biasa miskin, tetapi mereka telah mengecap suatu Nilai Hidup yang luhur bahwa kebahagiaan dan kesuksesan adalah hak setiap insan.
Ibu
Kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu Ibu, yang tetap lancar mengalir
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu Ibu, yang tetap lancar mengalir
Bila aku merantau
sedap susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayan siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
sedap susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayan siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
Ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga kembang menyerembak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku menangguk meskipun kurang mengerti
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
Saat bunga kembang menyerembak bau sayang
Ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
Aku menangguk meskipun kurang mengerti
Bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau aku ikut ujian lalu di tanya tentang pahlawan
namamu, Ibu, yang kusebut paling dahulu
Engkau ibu dan aku anakmu
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
Kalau aku ikut ujian lalu di tanya tentang pahlawan
namamu, Ibu, yang kusebut paling dahulu
Engkau ibu dan aku anakmu
Bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
Ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
Sesekali datang padaku
Menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
Terima kasih Ayah
Terima kasih Ayah, atas sebuah kesabaran yang selalu ada saat aku banyak meminta dan aku yang tak dapat memberi apa-apa Hanya darimu Ayah, aku memandang marah itu ialah nasihat yang berguna.
Cinta itu sederhana, seperti Ayah rela tidak membeli sesuatu yang baru untuknya, hanya demi memenuhi kebutuhan anaknya, Tuhanku, kuatkanlah hatiku, jernihkanlah pikiranku, mampukan aku berlaku sabar dan jadikanlah lelahku untuk kebahagiaan keluargaku. Aamiin
Tiap pengorbanan Ayah, di dalamnya selalu ada doa. Doa agar kesuksesan bisa diraih anakanaknya.
Aku pernah bertanya kepada Ibu, "Bagaimana menjadi lelaki yang baik bu?" "Lihatlah Ayahmu" ucap Ibu Bahwa dengan memaafkan dan tersenyum kepada orang yang menyakiti ialah cara pandai
dari kita yang mempunyai dedikasi tinggi.*Ayah
"Jangan anggap remeh atas usaha oranglain, karena belum tentu kita bisa melakukannya seperti mereka" *Ayah
Perjuangkan masa depanmu; demi keluargamu, demi orang-orang yang kamu cintai.
"Jujur; kunci paling penting dalam mendapatkan kepercayaan dalam bekerja."
Dan lelaki yang tak pernah mengenal lelah itu; Ayah.
Jika cinta itu ialah rasa peduli, maka sebabnya Ayah selalu menasihati tiap kesalahan anakanaknya.
Mencintaimu Ayah; aku memahami pengorbanan yang sesungguhnya.
Ayah selalu menginginkan anak-anaknya lebih hebat dari dia
Tuhan, terimakasih atas kehidupan baik hari ini yang Engkau beri kepada keluarga kami, segala rezeki yang kami nikmati.
Iri hati, ialah penyakit yang akan hanya membawa kita untuk tidak pernah merasakan arti dari cukup *Ayah
Nilailah dari hatinya bukan dari penampilannya. Baik buruknya seseorang tidak akan pernah ditentukan oleh wajahnya. *Ayah
Hargai keringat orang tua dengan tidak berfoya-foya. Malu rasanya, jika belum memberi apa apa tetapi hanya bisa meminta. *Ayah
Jadilah pahlawan untuk keluargamu dan untuk masa depanmu.
Saling menghargai adalah salah satu bukti bahwa kita memiliki pribadi yang baik.
Tuhan, terima kasih untuk anugerah dari segalanya. Bimbinglah kami untuk pandai dan terus
bersyukur atas nikmat dan karuniaMU
Ketika tak henti-hentinya untuk bersyukur, maka Tuhan pun tidak akan pernah berhenti melimpahkan nikmatNYA. *Ayah
"Jangan menyerahkan segalanya kepada keadaan. Percayakan bahwa kita bisa melewati dengan menyelesaikannya". *Ayah
Ayah; dia selalu memiliki sifat yang tak akan mengeluh, walau lelah itu sudah terlalu berat dirasakannya Ayah; pinjami aku hatimu agar saat engkau diam, aku tetap paham apa yang engkau rasakan.
Kesabaran, ialah salah satu sifat lelaki yang menjadikannya lebih tampan
Tuhan, terima kasih untuk perlindungan dariMu hari ini, sehingga keluargaku senantiasa terhindar dari musibah, keburukan dan kesedihan
Buatlah orang lain menghargaimu dengan cara kamu menghargai orang lain. *Ayah
Lebih baik bersusah-susah saat muda, biar saat tua tinggal menikmati dan bahagia. *Ayah
Rasa percaya diri bahwa kamu pasti bisa, akan mengantarkan keberhasilan itu sebagai hadiah terbesar untuk orang tua *Ayah
Sudah waktunya orang tua kita istirahat di rumah. Dan sudah waktunya kita yang bekerja keras demi mereka.
Tuhan, terima kasih untuk rezeki yang selalu Engkau berikan kepada keluarga kami, rezeki kesehatan dan kebahagiaan
Menyimpan kebencian dalam hati itu tidak baik. Jangan menyimpan sampah dalam hatimu.*Ayah
Anggaplah kegagalan itu semacam pengalaman atau pelajaran terbaik yang membuat kita terus dan terus berusaha hingga menang *Ayah
Saat kita melakukan hal baik, jangan pamer kepada orang lain. Biar berkah.*Ayah
Saat melihat orang lain bisa membahagiakan orang tuanya. Kita pun mestinya bisa. yuk sukses.
Fightt!!
Ketika doa belum dikabulkan, Allah itu Maha mendengar, Dia akan berikan pada waktunya bahkan lebih dari kita minta.
Marahnya Ayah cuma satu, supaya kita menjadi dewasa dalam berpikir sebelum bertindak.
Kemarahan Ayah hingga membuatmu benci, kelak ketika dia tiada, kamu akan rindu oleh marahnya yang tak bakal kembali
Ketika Ayah marah, hingga terkesan mengatur kehidupanmu, sesungguhnya dia tengah menuntun agar kamu lebih baik darinya
Tuhan, terima kasih untuk kehidupan hari ini untuk karunia dan rezeki yang selalu berlimpah Engkau hadirkan kepada kami
"pekerjaan, selama dijalani dengan ikhlas dan jujur, rezeki itu tidak akan bakal kemana" *Ayah
Jangan abaikan pengorbanan orang tua. Berikanlah suatu prestasi yang membuat mereka bangga.
Sedih rasanya ketika Ayahnya berpeluh mencari uang, sementara anaknya berfoya-foya menghamburkan uang *Ayah
Terkadang, saat Ibu tidak bisa memahami, hanya Ayah yang paham atas apa yang dirasakan hati, Terkadang dalam bersedih, Ayah lebih banyak memilih untuk berdiam karena dia memang tak pandai untuk menangis, Walau terkadang, Ayah lebih sedikit berbicara dengan kita, tetapi kata-katanya selalu saja mempunyai makna yang berguna.
Tuhan, terima kasih yang selalu memberi petunjuk kebenaran, kesuciaan iman, dan kekayaan berupa hati yang lembut kepada keluarga kami Tidak usah iri hati, tetaplah bersyukur apa yang kamu miliki. *Ayah
"Jangan anggap remeh atas usaha oranglain, karena belum tentu kita bisa melakukannya seperti mereka"*Ayah
Dari pada mencari kesalahan orang lain, lebih baik membenahi diri sendiri. *Ayah
"Lakukan pekerjaanmu dengan menyenangkan. Dengan begitu, kamu akan terhindar dari sifat mengeluh" *Ayah
"Jangan pernah merasa kecewa, jangan pernah merasa gagal. Allah itu Maha Baik." Ayah, pinjami aku hatimu, agar aku belajar bagaimana engkau menghadapi masalah tanpa mengeluh sedikit pun
Ayah, maafkanlah aku yang hanya bisa meminta dan tak pernah memberikan apa-apa Aku pernah bertanya kepada Ibu, "Bagaimana menjadi lelaki yang baik bu?" "Lihatlah Ayahmu"
ucap Ibu. Terimakasih Ayah atas kebahagiaanku yang berasal dari keringatmu mencari rezeki siang dan malam ♥
Tuhan, terima kasih untuk perlindungan dariMU hari ini. Jadikanlah kami hambaMU yang terus bersyukur akan nikmatMU.
Bersyukur, bersyukur dan terus bersyukur atas nikmat dari Allah. *Ayah
Kebutuhan kita selalu nomor satu di mata orang tua. Maka bantulah dengan prestasi yang membuat mereka bangga. *Ayah
Ketika kamu mencintai pekerjaanmu, maka ada harapan keberhasilan itu kamu raih. *Ayah
"apapun yang kamu pilih, tetap jujurlah pada diri sendiri dan jangan khianati hati" *Ayah
Selasa, 25 Agustus 2015
Langganan:
Postingan (Atom)